Bunyi lonceng itu masih sama. Pekik nyaringnya selalu punya cara paksa untuk membuat siapa pun bergegas, entah itu menuju masjid atau sekadar menghindari takzirah yang membayangi di sudut gerbang. Dulu, aku adalah salah satu dari ribuan pasang kaki yang berlarian di bawah rindangnya pepohonan Nurul Ilmi, dengan khimar yang berantakan karena terburu-buru dan saku penuh dengan hafalan kosa kata yang belum tuntas.
Kampung
ilmu bukan sekadar barisan gedung asrama bagi aku. Ia adalah saksi bisu
bagaimana seorang gadis kecil yang ringkih perlahan ditempa menjadi pribadi
yang lebih tangguh. Sudut-sudut lorongnya menyimpan gema tawa saat kami berbagi
sebungkus mie instan di malam hari, juga tetesan air mata yang jatuh diam-diam
saat rindu rumah mulai terasa menyesakkan dada.
Gerimis
di Serang selalu punya aroma yang khas: perpaduan antara bau tanah basah dan
kenangan yang mendadak menyeruak. Bagi sebagian orang, hujan mungkin romantis,
tapi bagi kami santriwati Nurul Ilmi, hujan adalah sebuah ujian ketangkasan.
Masih
terekam jelas dalam ingatan bagaimana sepatu pantofel hitam yang sudah kusirami
semir hingga mengkilat di pagi hari, harus rela kehilangan martabatnya dalam
sekejap. Tanah merah di bawah pijakan kami adalah penguji kesabaran yang paling
jujur. Hanya butuh beberapa langkah di jalanan asrama yang becek, dan keajaiban
pun terjadi: hak sepatu yang semula hanya 2,5 cm, tiba-tiba bertransformasi
menjadi 10 cm lebih. Bukan karena gaya, melainkan karena gumpalan tanah merah
yang setia menempel, membuat langkah kaki terasa berat dan kikuk.
Kami
sering tertawa melihat satu sama lain berjalan jinjit atau sibuk mencari
ranting pohon hanya untuk mencungkil beban di telapak kaki sebelum masuk ke
teras kelas atau masjid. Di atas tanah merah itulah, mental kami
dibentuk—belajar bahwa untuk mencapai tujuan yang mulia, ada perjalanan berat
yang harus ditempuh, lengkap dengan kotoran yang menempel di alas kaki.
Siapa
sangka, kaki yang dulu sering terpeleset dan berlumur lumpur itu, kini masih
berdiri tegak di sini. Namun, hidup memang punya alur yang tak terduga.
Hari
ini, pengabdian membawaku ke jantung perjuangan ini: Darunnajah Pusat. Statusku
memang telah bergeser; bukan lagi santriwati yang lari tunggang-langgang menghindari
telat, melainkan seorang Ustadzah yang mengemban amanah di bawah naungan
yayasan. Namun, meski lokasinya berpindah dari rimbunnya pepohonan di Serang ke
hiruk-pikuk Ibukota, rasanya tetap saja: aku masih berada di rumah yang sama.
Dulu
aku yang dituntun untuk memahami makna disiplin lewat beratnya langkah di tanah
merah. Kini, di pusat komando ini, aku belajar bahwa setiap inci kemajuan
lembaga ini bermula dari langkah-langkah berat para santrinya di berbagai
cabang. Berada di sini membuatku sadar bahwa pengabdian bukan tentang seberapa
jauh kita pergi, tapi tentang seberapa besar hati yang kita bawa kembali untuk
tempat yang telah membesarkan jiwa kita.
Ternyata,
jejak yang paling dalam tidak terukir di atas semen yang keras, melainkan di
atas tanah merah yang pernah memaksaku belajar cara untuk tetap berdiri tegak,
seberat apa pun beban yang menempel di kaki.
Sekarang,
jika aku memejamkan mata di sela keriuhan kantor, suasananya terasa sangat
berbeda, namun frekuensinya tetap sama. Darunnajah Pusat adalah poros dari
segala pergerakan, tempat di mana strategi besar diramu dan keputusan-keputusan
penting dilahirkan. Di sini, aku tidak lagi bergelut dengan tanah merah yang
licin, melainkan dengan tumpukan foto, koordinasi lintas lembaga, dan tanggung
jawab yang menuntut ketelitian tingkat tinggi.
Ada
debar yang unik setiap kali aku melintasi gerbang utama Pondok Pesantren
Darunnajah dengan seragam ustadzah. Terkadang, aku masih merasa seperti
santriwati yang "tersesat" di tubuh seorang pendidik. Melihat
wajah-wajah lelah namun bersemangat dari para santri yang melintas, aku seolah
melihat cermin masa lalu. Aku ingin membisikkan kepada mereka bahwa setiap
lelah yang mereka rasakan saat ini entah itu karena antrian mandi yang panjang
atau hafalan yang tak kunjung lengket adalah investasi yang kelak akan mereka
syukuri.
Aku
menyadari bahwa Darunnajah bukan sekadar institusi pendidikan; ia adalah
organisme besar yang hidup. Setiap cabang, termasuk Nurul Ilmi yang amat aku
cintai, adalah urat nadi yang saling terhubung. Pengabdianku di sini bukan
berarti aku meninggalkan identitas sebagai "anak nuil", justru aku
membawa semangat dari kaki perbukitan Serang untuk mewarnai dinamika di pusat
ini.
Tugasku
kini bukan lagi sekadar belajar, melainkan menjaga agar api yang dulu
menyalakan semangatku tetap berkobar bagi mereka yang baru memulai. Ada beban
amanah yang tersampir di pundak, sebuah kehormatan untuk bisa berkhidmat di lembaga
yang telah memberi ku segalanya. Dari seorang gadis yang sepatu pantofelnya
pernah "tumbuh" karena lumpur, kini aku berdiri di sini untuk
memastikan bahwa rumah besar ini tetap kokoh menaungi mimpi-mimpi ribuan santri
lainnya.
Nyatanya,
jarak antara Nurul Ilmi dan Ulujami tidaklah sejauh yang ada di peta. Keduanya
diikat oleh benang merah yang sama: pengabdian tanpa batas. Aku mungkin sudah
tidak lagi memakai seragam santri, tapi jiwa saya tetaplah santriwati yang
sedang menjalankan tugas dari Kyai.
"Merekam
Jejak di Rumah yang Sama" bukan sekadar judul catatan ini. Ini adalah
pengakuan jujur bahwa sejauh apa pun aku berlari, hati saya selalu menemukan
jalan pulang ke sini. Di sinilah aku belajar bahwa menjadi bermanfaat itu tidak
selalu harus berada di depan layar; terkadang, menjadi sekrup kecil di tengah
raksasanya yayasan adalah jalan jihad yang paling sunyi namun berarti.
Perjalanan
ini masih panjang. Dan selama matahari masih terbit di ufuk Darunnajah, aku
akan terus melangkah—kali ini bukan untuk menghindari takziran, melainkan untuk
menjemput rida-Nya di rumah yang telah membesarkaku.
Regards,
Almazetta
Ternyata, sejauh apa pun kaki melangkah, hati selalu tahu ke mana harus pulang. Dan bagiku, pengabdian ini adalah cara terbaik untuk mencintai rumah yang tak pernah berhenti memberi ini. Jejakku memang terus memanjang, melintasi batas kota dan provinsi, namun semuanya tetap tertulis di atas tanah yang sama: Darunnajah.



.png)
