Sabtu, 04 Oktober 2025

Bukan Cuma Ngaji: Bagaimana Darunnajah Mengubahku Jadi Multitalent Sejak Dini

            Aku masih ingat, dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang, Banten yang biasa kami menyebutnya dengan Kampung Ilmu. Yang terbayang hanyalah deretan kitab pondok, hafalan, dan ritual belajar yang kaku. Aku pikir, menjadi santriwati itu ya cuma duduk manis di kelas, setor hafalan, dan bersiap jadi ustazah. Nyatanya, Darunnajah jauh lebih dari sekedar mengaji.

Tembok asrama yang menjulang itu bukan hanya memisahkan kami dari hiruk pikuk keramaian sekitar, tapi juga menjadi panggung utama sebuah "Sekolah Kehidupan" yang sesungguhnya. Di sini, rutinitas pagiku langsung dimulai dari bunyi jaros qiyamul lail yang memecah keheningan, dilanjut dengan lari-lari kecil berebut kamar mandi, lalu harus sudah siap menuju ke Masjid. Terdengar kakak kelas yang biasa kami panggil Ukhty di depan Masjid sudah mulai menghitung dengan jari tangan keatas sembari mengucapkan “Ukhty, allati majala fil hujroh. Sa’asub hatta khomsah.”

Seharian, otak kami dituntut bergerak cepat. Pagi selepas jama’ah sholat shubuh kami harus mengikuti kegiatan Muhadatsah (percakapan Bahasa Arab dan Inggris). Dilanjut piket pondok dan thobur (mengantri) untuk mandi pagi. Ada juga sudah mulai berjalan membawa seperangkat alat makan menuju depan kamar dan ada juga yang masih harus menyetrika kerudung untuk dipakai sekolah.

Persiapan sekolah dengan menenteng beberapa buku tulis dan kamus tebal, menyusuri jalan pagi hari dengan penuh semangat Bersama sepasang pantofel kebanggan. Kenapa bangga? Padahal hanya sepasang pantofel bukan? Aku bangga, karena ini adalah pantofel pertamaku selama aku belajar menimba ilmu dari TK sampai SMK.

Baru setengah jalan, terlihat dari kejauhan sosok yang tidak asing bagi kami yaitu Ustadz bagian kedisiplinan. Berdiri disamping bel sekolah yang biasa kami sebut “Jaros”, saat itu masih menggunakan jaros manual yang harus dipukul menggunakan besi. Terdengar lantang dan melengking sampai telinga. Sebelum dihitung pun kami sudah bergegas belari menuju ke kelas masing-masing.

Alhamdulillah, kalau cuaca bersahabat dalam artian tidak ada hujan jadi jalanan tidak becek. Pernah ketika kami memaksa untuk berjalan disetelah semalaman pondok diguyur hujan, paginya sepatu pantofel kami naik 5cm. Menjadi pelajaran sangat berharga, jadi ketika ada kejadian serupa aku dan teman-teman sepakat akan menuju kelas nyeker dengan sepatu yang ditenteng.

Belajar di pondok bukan melulu tentang mengaji, tapi belajar ilmu umum, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan Muhadhoroh/Public Speaking, mengurus proker organisasi, dan masih banyak kegiatan lainnya. Kalau dulu aku hanya bisa fokus pada satu hal, sekarang? Aku harus bisa merencanakan rapat OSNI (Organisasi Santri Nurul Ilmi) sambil menghafal ibadah amaliyah (hafalan / do’a-do’a), mufradat (kosa kata) baru, atau menyelesaikan tugas setelah seharian bersih-bersih asrama. Karena kebetulan saat itu aku juga menjabat jadi Ketua OSNI. Kalau aku cerita nih sekarang sepertinya orang-orang nggak bakal ada yang percaya. hehehe

Tiga tahun di sini terasa seperti tiga puluh tahun pelatihan. Perlahan-lahan, aku sadar, Darunnajah tidak hanya membentuk kami menjadi pribadi yang pandai agama, tapi juga melatih kemampuan yang super penting: mengatur waktu, memimpin, dan mengerjakan banyak hal sekaligus. Inilah kisahku, bagaimana pesantren modern ini menempaku, dari gadis remaja biasa menjadi seorang multitalent yang siap menghadapi tantangan sejak usia belia.

Multitalent di pesantren bukan berarti mengerjakan segala sesuatu setengah-setengah. Justru, ini adalah seni mengatur prioritas dan melaksanakan semua tanggung jawab dengan totalitas. Ada tiga pilar utama yang secara tidak langsung memaksa kami menguasai keterampilan ini:

1.      Manajemen Waktu yang Ketat (Disiplin Detik demi Detik)

Kami tidak punya pilihan selain menghargai setiap detik. Jadwal di Kampung Ilmu adalah template paling brutal namun paling efektif untuk manajemen waktu. Sejak bangun pukul 04.00 WIB pagi hingga pukul 22.00 WIB, setiap jam sudah terisi penuh: sholat berjamaah, belajar formal, ekstrakurikuler, makan, piket kebersihan, dan kegiatan organisasi.

Contohnya sederhana: saat waktu istirahat makan siang, aku harus bisa menyeimbangkan antara cepat-cepat makan, mengambil cucian di jemuran, dan menyiapkan materi presentasi organisasi untuk malam hari. Jika aku terlambat 15 menit, otomatis seluruh jadwal soreku akan berantakan. Kami belajar, disiplin bukanlah hukuman, melainkan kunci kebebasan untuk menyelesaikan semua tugas tepat waktu.

2.      Tugas Organisasi yang Mengharuskan Inovasi

Setiap santri, terutama di tingkat menengah, wajib aktif di organisasi seperti OSNI (Organisasi Santri Nurul Ilmi) atau Koordinator Keamanan. Ini adalah laboratorium kepemimpinan kami. Aku pernah menjabat sebagai Ketua OSNI merangkap General Manager Santri TV. Tugasnya: menjadi pemimpin sekaligus contoh yang baik, menggariskan visi dan misi, menyusun dan mencatat program kerja, dan mengambil keputusan terakhir.

Aku ingat pernah harus mengetik laporan pertanggungjawaban umum ketua sebelum pelantikan pengurus baru. Acara di ruang Aula, sementara di tangan kanan aku memegang idad Amaliyah Tadris (persiapan praktik mengajar) karena besok ada bimbingan untuk persiapan Amaliyah Tadris (Praktik Mengajar). Di titik ini, multitalent terasa seperti sebuah keharusan. Aku belajar bahwa kunci multitalent bukanlah melakukan semuanya bersamaan, tetapi beralih fokus dengan cepat dan efisien tanpa mengorbankan kualitas.

3.      Tekanan Akademik dan Menghafal

Beban akademik di pesantren modern cenderung berat. Kami tidak hanya belajar mata pelajaran umum (matematika, sejarah, multimedia, dsbg) tetapi juga mata pelajaran agama (fikih, tafsir, hadis, tarbiyah, dsbg) yang menuntut hafalan kuat.

Bayangkan, dalam sehari, kami harus menyiapkan diri untuk kuis matematika, presentasi kewirausahaan, dan setor hafalan ibadah amaliyah kepada wali kelas. Hal ini menuntut kami untuk memecah fokus secara strategis: menggunakan waktu di kamar untuk muraja'ah (mengulang hafalan, waktu luang 15 menit di sore hari untuk membaca ringkasan sejarah, dan menggunakan waktu belajar malam untuk memecahkan soal matematika. Kampung Ilmu mengajarkan, otak bisa bekerja di banyak kanal, asalkan kita memberinya jadwal yang jelas.

Efek Jangka Panjang: Kesiapan Setelah Lulus

Ketika aku lulus dan memutuskan untuk mengabdi di Darunnajah Pusat dan Cabang. Melanjutkan ke jenjang berikutnya, banyak orang heran dengan kecepatanku dalam beradaptasi, mengatur deadline, dan mengambil inisiatif. Mereka tidak tahu bahwa training ini sudah kuterima bertahun-tahun di Kampung Ilmu.

Pengalaman menjadi santriwati telah mengajarkanku bahwa hidup adalah rangkaian tugas yang tidak pernah habis. Darunnajah tidak hanya memberiku ilmu agama yang kuat, tetapi juga memberiku struktur mental seorang manajer proyek: perencanaan yang matang, pelaksanaan yang disiplin, dan kemampuan untuk pivot (beralih) saat ada kendala tak terduga.

            Aku bersyukur. Di balik disiplin yang ketat, bunyi jaros yang memekakkan telinga, dan rutinitas yang kadang membuat ingin menyerah, Darunnajah telah menanamkan fondasi kemandirian dan keterampilan multitalent yang sangat berharga. Ternyata, tidak hanya belajar mengaji yang kami dapatkan, tapi kami juga belajar mengaji kehidupan dengan segala deadline dan tanggung jawabnya.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 komentar:

Start Work With Me

Contact Us
JOHN DOE
+123-456-789
Melbourne, Australia

Author Info

Video Of Day

About the author

Popular Posts