Aku masih ingat, dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang, Banten yang biasa kami menyebutnya dengan Kampung Ilmu. Yang terbayang hanyalah deretan kitab pondok, hafalan, dan ritual belajar yang kaku. Aku pikir, menjadi santriwati itu ya cuma duduk manis di kelas, setor hafalan, dan bersiap jadi ustazah. Nyatanya, Darunnajah jauh lebih dari sekedar mengaji.
Tembok asrama yang menjulang itu bukan
hanya memisahkan kami dari hiruk pikuk keramaian sekitar, tapi juga menjadi
panggung utama sebuah "Sekolah Kehidupan" yang sesungguhnya. Di sini,
rutinitas pagiku langsung dimulai dari bunyi jaros qiyamul lail yang
memecah keheningan, dilanjut dengan lari-lari kecil berebut kamar mandi, lalu
harus sudah siap menuju ke Masjid. Terdengar kakak kelas yang biasa kami
panggil Ukhty di depan Masjid sudah mulai menghitung dengan jari tangan
keatas sembari mengucapkan “Ukhty, allati majala fil hujroh. Sa’asub hatta khomsah.”
Seharian, otak kami dituntut bergerak
cepat. Pagi selepas jama’ah sholat shubuh kami harus mengikuti kegiatan Muhadatsah
(percakapan Bahasa Arab dan Inggris). Dilanjut piket pondok dan thobur (mengantri)
untuk mandi pagi. Ada juga sudah mulai berjalan membawa seperangkat alat makan
menuju depan kamar dan ada juga yang masih harus menyetrika kerudung untuk
dipakai sekolah.
Persiapan sekolah dengan menenteng beberapa
buku tulis dan kamus tebal, menyusuri jalan pagi hari dengan penuh semangat
Bersama sepasang pantofel kebanggan. Kenapa bangga? Padahal hanya sepasang
pantofel bukan? Aku bangga, karena ini adalah pantofel pertamaku selama aku
belajar menimba ilmu dari TK sampai SMK.
Baru setengah jalan, terlihat dari kejauhan
sosok yang tidak asing bagi kami yaitu Ustadz bagian kedisiplinan. Berdiri
disamping bel sekolah yang biasa kami sebut “Jaros”, saat itu masih menggunakan
jaros manual yang harus dipukul menggunakan besi. Terdengar lantang dan
melengking sampai telinga. Sebelum dihitung pun kami sudah bergegas belari
menuju ke kelas masing-masing.
Alhamdulillah, kalau cuaca bersahabat dalam
artian tidak ada hujan jadi jalanan tidak becek. Pernah ketika kami memaksa
untuk berjalan disetelah semalaman pondok diguyur hujan, paginya sepatu
pantofel kami naik 5cm. Menjadi pelajaran sangat berharga, jadi ketika ada
kejadian serupa aku dan teman-teman sepakat akan menuju kelas nyeker dengan
sepatu yang ditenteng.
Belajar di pondok bukan melulu tentang
mengaji, tapi belajar ilmu umum, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan Muhadhoroh/Public
Speaking, mengurus proker organisasi, dan masih banyak kegiatan lainnya.
Kalau dulu aku hanya bisa fokus pada satu hal, sekarang? Aku harus bisa
merencanakan rapat OSNI (Organisasi Santri Nurul Ilmi) sambil menghafal ibadah
amaliyah (hafalan / do’a-do’a), mufradat (kosa kata) baru,
atau menyelesaikan tugas setelah seharian bersih-bersih asrama. Karena
kebetulan saat itu aku juga menjabat jadi Ketua OSNI. Kalau aku cerita nih
sekarang sepertinya orang-orang nggak bakal ada yang percaya. hehehe
Tiga tahun di sini terasa seperti tiga puluh
tahun pelatihan. Perlahan-lahan, aku sadar, Darunnajah tidak hanya membentuk
kami menjadi pribadi yang pandai agama, tapi juga melatih kemampuan yang super
penting: mengatur waktu, memimpin, dan mengerjakan banyak hal sekaligus. Inilah
kisahku, bagaimana pesantren modern ini menempaku, dari gadis remaja biasa
menjadi seorang multitalent yang siap menghadapi tantangan sejak usia belia.
1.
Manajemen Waktu yang Ketat
(Disiplin Detik demi Detik)
Kami
tidak punya pilihan selain menghargai setiap detik. Jadwal di Kampung Ilmu
adalah template paling brutal namun paling efektif untuk manajemen waktu. Sejak
bangun pukul 04.00 WIB pagi hingga pukul 22.00 WIB, setiap jam sudah terisi
penuh: sholat berjamaah, belajar formal, ekstrakurikuler, makan, piket
kebersihan, dan kegiatan organisasi.
Contohnya
sederhana: saat waktu istirahat makan siang, aku harus bisa menyeimbangkan
antara cepat-cepat makan, mengambil cucian di jemuran, dan menyiapkan materi
presentasi organisasi untuk malam hari. Jika aku terlambat 15 menit, otomatis
seluruh jadwal soreku akan berantakan. Kami belajar, disiplin bukanlah hukuman,
melainkan kunci kebebasan untuk menyelesaikan semua tugas tepat waktu.
2.
Tugas Organisasi yang
Mengharuskan Inovasi
Setiap
santri, terutama di tingkat menengah, wajib aktif di organisasi seperti OSNI
(Organisasi Santri Nurul Ilmi) atau Koordinator Keamanan. Ini adalah
laboratorium kepemimpinan kami. Aku pernah menjabat sebagai Ketua OSNI merangkap
General Manager Santri TV. Tugasnya: menjadi pemimpin sekaligus contoh yang
baik, menggariskan visi dan misi, menyusun dan mencatat program kerja, dan mengambil
keputusan terakhir.
Aku
ingat pernah harus mengetik laporan pertanggungjawaban umum ketua sebelum
pelantikan pengurus baru. Acara di ruang Aula, sementara di tangan kanan aku
memegang idad Amaliyah Tadris (persiapan praktik mengajar) karena besok ada
bimbingan untuk persiapan Amaliyah Tadris (Praktik Mengajar). Di titik
ini, multitalent terasa seperti sebuah keharusan. Aku belajar bahwa kunci
multitalent bukanlah melakukan semuanya bersamaan, tetapi beralih fokus dengan
cepat dan efisien tanpa mengorbankan kualitas.
3.
Tekanan Akademik dan Menghafal
Beban
akademik di pesantren modern cenderung berat. Kami tidak hanya belajar
mata pelajaran umum (matematika, sejarah, multimedia, dsbg) tetapi juga mata
pelajaran agama (fikih, tafsir, hadis, tarbiyah, dsbg) yang menuntut
hafalan kuat.
Bayangkan,
dalam sehari, kami harus menyiapkan diri untuk kuis matematika, presentasi kewirausahaan,
dan setor hafalan ibadah amaliyah kepada wali kelas. Hal ini menuntut kami
untuk memecah fokus secara strategis: menggunakan waktu di kamar untuk muraja'ah
(mengulang hafalan, waktu luang 15 menit di sore hari untuk membaca ringkasan
sejarah, dan menggunakan waktu belajar malam untuk memecahkan soal matematika. Kampung
Ilmu mengajarkan, otak bisa bekerja di banyak kanal, asalkan kita memberinya
jadwal yang jelas.
Efek
Jangka Panjang: Kesiapan Setelah Lulus
Ketika
aku lulus dan memutuskan untuk mengabdi di Darunnajah Pusat dan Cabang. Melanjutkan
ke jenjang berikutnya, banyak orang heran dengan kecepatanku dalam beradaptasi,
mengatur deadline, dan mengambil inisiatif. Mereka tidak tahu bahwa training
ini sudah kuterima bertahun-tahun di Kampung Ilmu.
Pengalaman
menjadi santriwati telah mengajarkanku bahwa hidup adalah rangkaian tugas yang
tidak pernah habis. Darunnajah tidak hanya memberiku ilmu agama yang kuat,
tetapi juga memberiku struktur mental seorang manajer proyek: perencanaan yang
matang, pelaksanaan yang disiplin, dan kemampuan untuk pivot (beralih)
saat ada kendala tak terduga.






.png)
