I LOVE TO CAPTURE THE MOMENT

I AM

image
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

I'm Almas Khalishah Al-Batawi

Sosok wanita kelahiran Jakarta pada hari Kamis Legi tanggal 14 Agustus 1997. Hadir diantara keluarga yang sangat sederhana dengan penuh rasa syukur. Tapi memiliki cita dan impian yang tinggi sehingga dapat bermanfaat untuk khalayak luas.

Dengan profesi saat ini sebagai Photographer dan Admin Website di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Dengan kemampuan menulis, merangkai kata, melukis cahaya serta komunikasi yang sangat baik sehingga mudah bergaul dan akrab dengan siapa saja.


Education
University of Engineering

Bachelor of Science

College of Awesomeness

Master of Fine Arts

School of Amusement

Bachelor of Fine Arts


Experience
Lead Developer

State Art company

UI/UX Developer

Design Corporation

Front-End Developer

Creative Design Studio


My Skills
Design
Programming
Branding
Marketing

764

Awards Won

1664

Happy Customers

2964

Projects Done

1564

Photos Made

WHAT CAN I DO

Web Design

Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

Responsive Design

Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

Graphic Design

Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

Clean Code

Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

Photographic

Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

Unlimited Support

Fusce quis volutpat porta, ut tincidunt eros est nec diam erat quis volutpat porta

SOME OF WORK

Merekam Jejak di Rumah yang Sama



Bunyi lonceng itu masih sama. Pekik nyaringnya selalu punya cara paksa untuk membuat siapa pun bergegas, entah itu menuju masjid atau sekadar menghindari takzirah yang membayangi di sudut gerbang. Dulu, aku adalah salah satu dari ribuan pasang kaki yang berlarian di bawah rindangnya pepohonan Nurul Ilmi, dengan khimar yang berantakan karena terburu-buru dan saku penuh dengan hafalan kosa kata yang belum tuntas.

Kampung ilmu bukan sekadar barisan gedung asrama bagi aku. Ia adalah saksi bisu bagaimana seorang gadis kecil yang ringkih perlahan ditempa menjadi pribadi yang lebih tangguh. Sudut-sudut lorongnya menyimpan gema tawa saat kami berbagi sebungkus mie instan di malam hari, juga tetesan air mata yang jatuh diam-diam saat rindu rumah mulai terasa menyesakkan dada.

Gerimis di Serang selalu punya aroma yang khas: perpaduan antara bau tanah basah dan kenangan yang mendadak menyeruak. Bagi sebagian orang, hujan mungkin romantis, tapi bagi kami santriwati Nurul Ilmi, hujan adalah sebuah ujian ketangkasan.

Masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana sepatu pantofel hitam yang sudah kusirami semir hingga mengkilat di pagi hari, harus rela kehilangan martabatnya dalam sekejap. Tanah merah di bawah pijakan kami adalah penguji kesabaran yang paling jujur. Hanya butuh beberapa langkah di jalanan asrama yang becek, dan keajaiban pun terjadi: hak sepatu yang semula hanya 2,5 cm, tiba-tiba bertransformasi menjadi 10 cm lebih. Bukan karena gaya, melainkan karena gumpalan tanah merah yang setia menempel, membuat langkah kaki terasa berat dan kikuk.

Kami sering tertawa melihat satu sama lain berjalan jinjit atau sibuk mencari ranting pohon hanya untuk mencungkil beban di telapak kaki sebelum masuk ke teras kelas atau masjid. Di atas tanah merah itulah, mental kami dibentuk—belajar bahwa untuk mencapai tujuan yang mulia, ada perjalanan berat yang harus ditempuh, lengkap dengan kotoran yang menempel di alas kaki.

Siapa sangka, kaki yang dulu sering terpeleset dan berlumur lumpur itu, kini masih berdiri tegak di sini. Namun, hidup memang punya alur yang tak terduga.

Hari ini, pengabdian membawaku ke jantung perjuangan ini: Darunnajah Pusat. Statusku memang telah bergeser; bukan lagi santriwati yang lari tunggang-langgang menghindari telat, melainkan seorang Ustadzah yang mengemban amanah di bawah naungan yayasan. Namun, meski lokasinya berpindah dari rimbunnya pepohonan di Serang ke hiruk-pikuk Ibukota, rasanya tetap saja: aku masih berada di rumah yang sama.

Dulu aku yang dituntun untuk memahami makna disiplin lewat beratnya langkah di tanah merah. Kini, di pusat komando ini, aku belajar bahwa setiap inci kemajuan lembaga ini bermula dari langkah-langkah berat para santrinya di berbagai cabang. Berada di sini membuatku sadar bahwa pengabdian bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tapi tentang seberapa besar hati yang kita bawa kembali untuk tempat yang telah membesarkan jiwa kita.

Ternyata, jejak yang paling dalam tidak terukir di atas semen yang keras, melainkan di atas tanah merah yang pernah memaksaku belajar cara untuk tetap berdiri tegak, seberat apa pun beban yang menempel di kaki.

Sekarang, jika aku memejamkan mata di sela keriuhan kantor, suasananya terasa sangat berbeda, namun frekuensinya tetap sama. Darunnajah Pusat adalah poros dari segala pergerakan, tempat di mana strategi besar diramu dan keputusan-keputusan penting dilahirkan. Di sini, aku tidak lagi bergelut dengan tanah merah yang licin, melainkan dengan tumpukan foto, koordinasi lintas lembaga, dan tanggung jawab yang menuntut ketelitian tingkat tinggi.

Ada debar yang unik setiap kali aku melintasi gerbang utama Pondok Pesantren Darunnajah dengan seragam ustadzah. Terkadang, aku masih merasa seperti santriwati yang "tersesat" di tubuh seorang pendidik. Melihat wajah-wajah lelah namun bersemangat dari para santri yang melintas, aku seolah melihat cermin masa lalu. Aku ingin membisikkan kepada mereka bahwa setiap lelah yang mereka rasakan saat ini entah itu karena antrian mandi yang panjang atau hafalan yang tak kunjung lengket adalah investasi yang kelak akan mereka syukuri.

Aku menyadari bahwa Darunnajah bukan sekadar institusi pendidikan; ia adalah organisme besar yang hidup. Setiap cabang, termasuk Nurul Ilmi yang amat aku cintai, adalah urat nadi yang saling terhubung. Pengabdianku di sini bukan berarti aku meninggalkan identitas sebagai "anak nuil", justru aku membawa semangat dari kaki perbukitan Serang untuk mewarnai dinamika di pusat ini.

Tugasku kini bukan lagi sekadar belajar, melainkan menjaga agar api yang dulu menyalakan semangatku tetap berkobar bagi mereka yang baru memulai. Ada beban amanah yang tersampir di pundak, sebuah kehormatan untuk bisa berkhidmat di lembaga yang telah memberi ku segalanya. Dari seorang gadis yang sepatu pantofelnya pernah "tumbuh" karena lumpur, kini aku berdiri di sini untuk memastikan bahwa rumah besar ini tetap kokoh menaungi mimpi-mimpi ribuan santri lainnya.

Nyatanya, jarak antara Nurul Ilmi dan Ulujami tidaklah sejauh yang ada di peta. Keduanya diikat oleh benang merah yang sama: pengabdian tanpa batas. Aku mungkin sudah tidak lagi memakai seragam santri, tapi jiwa saya tetaplah santriwati yang sedang menjalankan tugas dari Kyai.

"Merekam Jejak di Rumah yang Sama" bukan sekadar judul catatan ini. Ini adalah pengakuan jujur bahwa sejauh apa pun aku berlari, hati saya selalu menemukan jalan pulang ke sini. Di sinilah aku belajar bahwa menjadi bermanfaat itu tidak selalu harus berada di depan layar; terkadang, menjadi sekrup kecil di tengah raksasanya yayasan adalah jalan jihad yang paling sunyi namun berarti.

Perjalanan ini masih panjang. Dan selama matahari masih terbit di ufuk Darunnajah, aku akan terus melangkah—kali ini bukan untuk menghindari takziran, melainkan untuk menjemput rida-Nya di rumah yang telah membesarkaku. 

Regards,

Almazetta

Ternyata, sejauh apa pun kaki melangkah, hati selalu tahu ke mana harus pulang. Dan bagiku, pengabdian ini adalah cara terbaik untuk mencintai rumah yang tak pernah berhenti memberi ini. Jejakku memang terus memanjang, melintasi batas kota dan provinsi, namun semuanya tetap tertulis di atas tanah yang sama: Darunnajah.

Start Work With Me

Contact Us
JOHN DOE
+123-456-789
Melbourne, Australia

Author Info

Video Of Day

About the author

Popular Posts